Sisi Gelap dan Terang dalam Menuntut Ilmu

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Menuntut ilmu adalah salah satu perintah Allah yang sangat mulia. Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan mencari ilmu, karena ilmu adalah jalan menuju kebijaksanaan dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Namun, di balik kemuliaan proses ini, terdapat sisi gelap yang dapat menjerumuskan seseorang, yaitu kesombongan.
Ilmu yang Membawa Kesombongan
Ketika seseorang menuntut ilmu tanpa disertai akhlak dan kesadaran akan kebesaran Allah, ilmu tersebut dapat menjadi jalan menuju kesombongan. Sebagai contoh, seseorang yang merasa telah menguasai suatu bidang ilmu sering kali menolak saran atau koreksi dari orang lain, meskipun saran tersebut benar. Hal ini pernah terlihat pada seorang murid yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya sehingga meremehkan gurunya, yang pada akhirnya membuatnya sulit menerima ilmu baru. Beberapa tanda kesombongan akibat ilmu adalah:
Sulit Menerima Kebenaran Orang yang sombong sering kali merasa bahwa dirinya sudah mengetahui segalanya. Ia enggan menerima materi yang sebenarnya baru atau bahkan sudah dipelajari sebelumnya, meskipun belum benar-benar menguasainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 109: "Katakanlah (Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.'" Ayat ini mengingatkan kita bahwa ilmu Allah sangat luas, sehingga tidak sepantasnya manusia merasa telah mengetahui segalanya.
Merendahkan Orang Lain Kesombongan ilmu dapat membuat seseorang memandang rendah orang yang belum tahu atau belum memahami suatu ilmu. Sikap ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dirinya sendiri karena terhalang dari keberkahan ilmu.
Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Orang yang sombong cenderung merasa dirinya lebih pintar, lebih berwawasan, atau lebih unggul daripada orang lain. Padahal, di atas langit masih ada langit.
Mudah Menyalahkan Orang Lain Tanpa Adab Kesombongan sering kali membuat seseorang cepat menghakimi dan menyalahkan orang lain, bahkan dengan cara yang tidak beradab. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan kelembutan dan kasih sayang dalam menasihati.
Ilmu yang Membawa Tawaduk
Sebaliknya, ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang membawa seseorang kepada ketawadukan. Sebagai contoh, seorang ilmuwan yang mendalami keajaiban alam semesta sering kali merasa kagum terhadap kebesaran ciptaan Allah dan menjadi lebih rendah hati. Contoh lainnya adalah seorang ulama yang, meskipun memiliki banyak ilmu, tetap mendengarkan dan menghargai pendapat dari orang-orang awam. Ketika seorang penuntut ilmu menyadari betapa dahsyatnya penciptaan Allah dan betapa luasnya ilmu-Nya, maka ia akan:
Banyak Bersyukur Ia memahami bahwa ilmu yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Kesadaran ini membuatnya lebih banyak bersyukur atas nikmat-Nya.
Rendah Hati Orang yang tawaduk tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Ia justru menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk terus belajar.
Tidak Mudah Terpengaruh Ketawadukan membentengi seseorang dari pengaruh buruk lingkungan. Ia kokoh dalam prinsip dan nilai-nilai Islam.
Beradab dalam Berinteraksi Orang yang tawaduk memahami pentingnya adab dalam berbicara, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Ia menghormati orang lain tanpa memandang latar belakang mereka.
Doa Agar Terhindar dari Kesombongan
Agar terhindar dari kesombongan, kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah. Allah juga berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 7: "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas maksudnya), itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (samar-samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal." Salah satu doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 8-9:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)
“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau-lah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imran: 9)
Doa ini mengingatkan kita untuk selalu memohon petunjuk dan rahmat Allah agar terhindar dari sifat-sifat tercela, termasuk kesombongan. Dalam konteks menuntut ilmu, doa ini sangat relevan karena ilmu yang diperoleh tanpa hidayah dan rahmat Allah dapat menjerumuskan seseorang kepada kesombongan. Oleh karena itu, dengan memanjatkan doa ini, kita diajarkan untuk selalu mengaitkan ilmu dengan sikap tawaduk dan penghambaan kepada Allah.
Penutup
Menuntut ilmu adalah ibadah yang mulia, tetapi kesombongan dapat merusak keindahan proses tersebut. Mari kita terus mengingat bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah, menjadikan kita lebih bersyukur, rendah hati, dan beradab. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi penuntut ilmu yang tawaduk dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin.
Sumber: GPT (18 Januari 2025)




