Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Ketika Perusahaan Lebih Memilih Developer Biasa yang Berakhlak daripada Developer Jenius yang Sulit Diajak Bekerja

Updated
6 min read
Ketika Perusahaan Lebih Memilih Developer Biasa yang Berakhlak daripada Developer Jenius yang Sulit Diajak Bekerja
A

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

Di dunia teknologi, kita sering mendengar nasihat:

"Belajar framework baru, kuasai AI, tingkatkan skill coding."

Semua itu benar. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan oleh para developer muda:

Karier tidak hanya dibangun oleh skill, tetapi juga oleh attitude dan akhlak.

Bahkan tidak sedikit perusahaan yang lebih memilih merekrut lulusan kampus biasa dengan attitude yang baik dibandingkan programmer jenius yang sulit bekerja sama.

Mengapa?

Karena skill dapat dilatih. Sedangkan karakter membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dibentuk.


Ketika Skill Tidak Lagi Menjadi Pembeda

Hari ini, belajar teknologi semakin mudah.

  • Dokumentasi ada di mana-mana.

  • Tutorial gratis bertebaran.

  • AI dapat membantu menulis kode.

  • Framework baru dapat dipelajari dalam hitungan minggu.

Namun, ada hal yang tidak bisa dihasilkan oleh AI atau dipelajari dalam semalam:

  • Integritas.

  • Tanggung jawab.

  • Kejujuran.

  • Kerendahan hati.

  • Kemampuan menerima kritik.

  • Kemampuan menghargai orang lain.

Banyak manajer engineering dan HR menemukan bahwa masalah terbesar dalam tim bukanlah kurangnya kemampuan teknis, melainkan:

  • ego yang tinggi,

  • sulit menerima masukan,

  • suka menyalahkan orang lain,

  • tidak dapat bekerja dalam tim,

  • tidak dapat dipercaya.

Dalam dunia kerja, seorang developer tidak bekerja sendirian. Ia harus berinteraksi dengan:

  • product manager,

  • designer,

  • QA,

  • DevOps,

  • customer support,

  • bahkan klien.

Karena itu, kemampuan manusiawi sering kali lebih menentukan daripada kemampuan teknis.


Kisah yang Sering Terjadi di Industri

Bayangkan dua kandidat.

Kandidat A

  • Algoritma sangat kuat.

  • Menguasai banyak bahasa pemrograman.

  • Kontributor open source.

  • Namun:

    • arogan,

    • sulit menerima masukan,

    • meremehkan anggota tim.

Kandidat B

  • Skill cukup baik.

  • Mau belajar.

  • Bertanggung jawab.

  • Jujur.

  • Rendah hati.

  • Mudah bekerja sama.

Banyak perusahaan akan memilih Kandidat B.

Mengapa?

Karena perusahaan tidak hanya merekrut coder, tetapi juga rekan kerja.


Developer Hebat Bukan Hanya yang Pintar Coding

Sebagian besar kegagalan proyek software bukan karena teknologi yang buruk.

Melainkan karena:

  • komunikasi yang buruk,

  • konflik tim,

  • kurangnya tanggung jawab,

  • ego,

  • ketidakjujuran.

Karena itu, developer yang memiliki akhlak baik sering kali berkembang lebih cepat menjadi:

  • senior engineer,

  • tech lead,

  • engineering manager,

  • CTO.

Bukan semata karena mereka paling pintar, tetapi karena mereka:

  • dipercaya,

  • dihormati,

  • mampu membangun tim.


Islam Telah Mengajarkan Ini Sejak 1400 Tahun Lalu

Muhammad bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

(HR. Ahmad dan Al-Muwaththa')

Perhatikan.

Nabi tidak mengatakan:

"Aku diutus untuk menjadikan manusia paling kaya."

atau

"Aku diutus untuk menjadikan manusia paling pintar."

Tetapi:

untuk menyempurnakan akhlak.

Bahkan beliau juga bersabda:

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Artinya, dalam Islam, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari ilmunya, tetapi juga dari perilakunya.


Dunia Teknologi Sangat Membutuhkan Akhlak

Seorang developer yang berakhlak akan:

Ketika melakukan kesalahan

Mengakuinya.

Bukan menyalahkan orang lain.


Ketika code review

Menerima kritik.

Bukan tersinggung.


Ketika sukses

Bersyukur.

Bukan meremehkan orang lain.


Ketika belajar

Rendah hati.

Bukan merasa paling pintar.


Ketika menjadi senior

Membimbing junior.

Bukan menjatuhkan mereka.


Nabi Muhammad adalah Role Model Terbaik bagi Developer

Mungkin sebagian orang bertanya:

Apa hubungan Nabi dengan dunia software engineering?

Jawabannya: sangat banyak.

Karakter Nabi mengajarkan prinsip yang dibutuhkan setiap engineer:

Akhlak Nabi Dalam Dunia Developer
Amanah Menjaga data dan tanggung jawab
Jujur Tidak memanipulasi laporan
Sabar Menghadapi bug dan tekanan
Rendah hati Mau belajar dari siapa pun
Menepati janji Menyelesaikan tugas tepat waktu
Memuliakan manusia Menghormati rekan kerja

Teknologi berubah sangat cepat.

Tetapi nilai-nilai ini tidak pernah usang.


AI Akan Mengubah Dunia Kerja

Banyak skill teknis akan semakin mudah digantikan oleh AI:

  • membuat boilerplate,

  • menulis unit test,

  • membuat dokumentasi,

  • menghasilkan kode.

Namun AI masih sulit menggantikan:

  • integritas,

  • empati,

  • kepemimpinan,

  • tanggung jawab,

  • akhlak.

Karena itu, di era AI justru human skills menjadi semakin penting.


Pesan untuk Developer Muda

Belajarlah:

  • JavaScript,

  • TypeScript,

  • React,

  • Next.js,

  • AI,

  • Cloud.

Tetapi jangan lupa belajar:

  • jujur,

  • disiplin,

  • menghargai orang lain,

  • bertanggung jawab,

  • memuliakan manusia.

Karena pada akhirnya, karier yang panjang tidak dibangun hanya dengan kemampuan menulis kode.

Tetapi dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih mendasar:

Akhlak.

Dan mungkin itulah sebabnya mengapa Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Di dunia yang dipenuhi teknologi dan kecerdasan buatan, pesan ini justru menjadi semakin relevan:

Menjadi developer hebat bukan hanya tentang menjadi programmer yang pintar, tetapi juga menjadi manusia yang baik.


Catatan Penulis

Tulisan ini terinspirasi dari nasihat Ust. Alwi, penasehat PPQITA, tentang pentingnya akhlak di tengah zaman yang semakin mengagungkan kemampuan teknis, prestasi, dan kecerdasan.

Beliau mengingatkan bahwa manusia tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi ilmunya, seberapa banyak hafalannya, atau seberapa hebat keterampilannya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, menjaga amanah, menghormati sesama, dan berusaha menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Sebagai seorang developer, saya melihat nasihat ini sangat relevan dengan dunia teknologi saat ini. Banyak perusahaan mampu melatih seseorang untuk menguasai framework baru, bahasa pemrograman baru, atau teknologi baru. Namun, membentuk karakter seperti kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Namun, tulisan ini bukanlah nasihat dari seseorang yang telah sempurna dalam akhlak. Justru sebaliknya, penulis masih dalam proses belajar, memperbaiki diri, dan sering kali menemukan banyak kekurangan pada dirinya sendiri. Karena itu, tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri penulis, sebelum menjadi pengingat bagi orang lain.

Sebagaimana perkataan para ulama:

"Orang yang paling membutuhkan nasihat yang ia tulis adalah penulisnya sendiri."

Jika ada kebaikan dalam tulisan ini, semoga itu menjadi pengingat bagi kita semua. Dan jika masih terdapat kekurangan, maka kekurangan itu berasal dari keterbatasan penulis yang masih terus belajar memperbaiki akhlak dan diri.

Karena pada akhirnya, di dunia yang semakin dipenuhi teknologi dan kecerdasan buatan, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:

"Seberapa pintar kita?"

Tetapi:

"Seberapa baik akhlak kita kepada Allah dan kepada sesama manusia?"

Sebab Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Semoga Allah memperbaiki akhlak kita, menjadikan ilmu yang kita miliki bermanfaat, dan menjadikan teknologi yang kita bangun sebagai jalan untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia. Aamiin.