Ketika Perusahaan Lebih Memilih Developer Biasa yang Berakhlak daripada Developer Jenius yang Sulit Diajak Bekerja

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Search for a command to run...

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
No comments yet. Be the first to comment.
Mengapa developer dan creator lebih membutuhkan attention management dibanding time management. Ada sebuah paradoks menggelitik di dunia teknologi hari ini. Kita membangun AI untuk mempercepat workfl

Di dunia yang serba cepat hari ini, kita sering dipaparkan pada satu narasi klasik: "Jika ingin sukses, kamu hanya perlu bekerja lebih keras dari orang lain." Kita diminta menjadi seperti buldozer—men

Ilmu Jualan: Keterampilan yang Jarang Diajarkan, Tetapi Sangat Menentukan Masa Depan Finansial Banyak orang belajar ekonomi, bisnis, teknologi, dan berbagai keterampilan profesional selama bertahun-t

Pernahkah kamu merasa sudah menekan semua tombol dengan benar—bekerja keras, menjaga disiplin, dan mencoba menjadi manusia yang baik—tetapi hidup tetap terasa seperti sebuah beban yang melelahkan? Dar

Di dunia teknologi, kita sering mendengar nasihat:
"Belajar framework baru, kuasai AI, tingkatkan skill coding."
Semua itu benar. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan oleh para developer muda:
Karier tidak hanya dibangun oleh skill, tetapi juga oleh attitude dan akhlak.
Bahkan tidak sedikit perusahaan yang lebih memilih merekrut lulusan kampus biasa dengan attitude yang baik dibandingkan programmer jenius yang sulit bekerja sama.
Mengapa?
Karena skill dapat dilatih. Sedangkan karakter membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dibentuk.
Hari ini, belajar teknologi semakin mudah.
Dokumentasi ada di mana-mana.
Tutorial gratis bertebaran.
AI dapat membantu menulis kode.
Framework baru dapat dipelajari dalam hitungan minggu.
Namun, ada hal yang tidak bisa dihasilkan oleh AI atau dipelajari dalam semalam:
Integritas.
Tanggung jawab.
Kejujuran.
Kerendahan hati.
Kemampuan menerima kritik.
Kemampuan menghargai orang lain.
Banyak manajer engineering dan HR menemukan bahwa masalah terbesar dalam tim bukanlah kurangnya kemampuan teknis, melainkan:
ego yang tinggi,
sulit menerima masukan,
suka menyalahkan orang lain,
tidak dapat bekerja dalam tim,
tidak dapat dipercaya.
Dalam dunia kerja, seorang developer tidak bekerja sendirian. Ia harus berinteraksi dengan:
product manager,
designer,
QA,
DevOps,
customer support,
bahkan klien.
Karena itu, kemampuan manusiawi sering kali lebih menentukan daripada kemampuan teknis.
Bayangkan dua kandidat.
Algoritma sangat kuat.
Menguasai banyak bahasa pemrograman.
Kontributor open source.
Namun:
arogan,
sulit menerima masukan,
meremehkan anggota tim.
Skill cukup baik.
Mau belajar.
Bertanggung jawab.
Jujur.
Rendah hati.
Mudah bekerja sama.
Banyak perusahaan akan memilih Kandidat B.
Mengapa?
Karena perusahaan tidak hanya merekrut coder, tetapi juga rekan kerja.
Sebagian besar kegagalan proyek software bukan karena teknologi yang buruk.
Melainkan karena:
komunikasi yang buruk,
konflik tim,
kurangnya tanggung jawab,
ego,
ketidakjujuran.
Karena itu, developer yang memiliki akhlak baik sering kali berkembang lebih cepat menjadi:
senior engineer,
tech lead,
engineering manager,
CTO.
Bukan semata karena mereka paling pintar, tetapi karena mereka:
dipercaya,
dihormati,
mampu membangun tim.
Muhammad bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
(HR. Ahmad dan Al-Muwaththa')
Perhatikan.
Nabi tidak mengatakan:
"Aku diutus untuk menjadikan manusia paling kaya."
atau
"Aku diutus untuk menjadikan manusia paling pintar."
Tetapi:
untuk menyempurnakan akhlak.
Bahkan beliau juga bersabda:
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Artinya, dalam Islam, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari ilmunya, tetapi juga dari perilakunya.
Seorang developer yang berakhlak akan:
Mengakuinya.
Bukan menyalahkan orang lain.
Menerima kritik.
Bukan tersinggung.
Bersyukur.
Bukan meremehkan orang lain.
Rendah hati.
Bukan merasa paling pintar.
Membimbing junior.
Bukan menjatuhkan mereka.
Mungkin sebagian orang bertanya:
Apa hubungan Nabi dengan dunia software engineering?
Jawabannya: sangat banyak.
Karakter Nabi mengajarkan prinsip yang dibutuhkan setiap engineer:
| Akhlak Nabi | Dalam Dunia Developer |
|---|---|
| Amanah | Menjaga data dan tanggung jawab |
| Jujur | Tidak memanipulasi laporan |
| Sabar | Menghadapi bug dan tekanan |
| Rendah hati | Mau belajar dari siapa pun |
| Menepati janji | Menyelesaikan tugas tepat waktu |
| Memuliakan manusia | Menghormati rekan kerja |
Teknologi berubah sangat cepat.
Tetapi nilai-nilai ini tidak pernah usang.
Banyak skill teknis akan semakin mudah digantikan oleh AI:
membuat boilerplate,
menulis unit test,
membuat dokumentasi,
menghasilkan kode.
Namun AI masih sulit menggantikan:
integritas,
empati,
kepemimpinan,
tanggung jawab,
akhlak.
Karena itu, di era AI justru human skills menjadi semakin penting.
Belajarlah:
JavaScript,
TypeScript,
React,
Next.js,
AI,
Cloud.
Tetapi jangan lupa belajar:
jujur,
disiplin,
menghargai orang lain,
bertanggung jawab,
memuliakan manusia.
Karena pada akhirnya, karier yang panjang tidak dibangun hanya dengan kemampuan menulis kode.
Tetapi dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih mendasar:
Akhlak.
Dan mungkin itulah sebabnya mengapa Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
Di dunia yang dipenuhi teknologi dan kecerdasan buatan, pesan ini justru menjadi semakin relevan:
Menjadi developer hebat bukan hanya tentang menjadi programmer yang pintar, tetapi juga menjadi manusia yang baik.
Tulisan ini terinspirasi dari nasihat Ust. Alwi, penasehat PPQITA, tentang pentingnya akhlak di tengah zaman yang semakin mengagungkan kemampuan teknis, prestasi, dan kecerdasan.
Beliau mengingatkan bahwa manusia tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi ilmunya, seberapa banyak hafalannya, atau seberapa hebat keterampilannya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, menjaga amanah, menghormati sesama, dan berusaha menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Sebagai seorang developer, saya melihat nasihat ini sangat relevan dengan dunia teknologi saat ini. Banyak perusahaan mampu melatih seseorang untuk menguasai framework baru, bahasa pemrograman baru, atau teknologi baru. Namun, membentuk karakter seperti kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Namun, tulisan ini bukanlah nasihat dari seseorang yang telah sempurna dalam akhlak. Justru sebaliknya, penulis masih dalam proses belajar, memperbaiki diri, dan sering kali menemukan banyak kekurangan pada dirinya sendiri. Karena itu, tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri penulis, sebelum menjadi pengingat bagi orang lain.
Sebagaimana perkataan para ulama:
"Orang yang paling membutuhkan nasihat yang ia tulis adalah penulisnya sendiri."
Jika ada kebaikan dalam tulisan ini, semoga itu menjadi pengingat bagi kita semua. Dan jika masih terdapat kekurangan, maka kekurangan itu berasal dari keterbatasan penulis yang masih terus belajar memperbaiki akhlak dan diri.
Karena pada akhirnya, di dunia yang semakin dipenuhi teknologi dan kecerdasan buatan, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:
"Seberapa pintar kita?"
Tetapi:
"Seberapa baik akhlak kita kepada Allah dan kepada sesama manusia?"
Sebab Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
Semoga Allah memperbaiki akhlak kita, menjadikan ilmu yang kita miliki bermanfaat, dan menjadikan teknologi yang kita bangun sebagai jalan untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia. Aamiin.