Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Mengingat Kematian: Kebiasaan yang Membentuk Keberanian Hidup - Steve Jobs

Updated
3 min read
Mengingat Kematian: Kebiasaan yang Membentuk Keberanian Hidup - Steve Jobs
A

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

Ada satu kebiasaan mental yang pernah dilakukan oleh Steve Jobs, sosok yang dikenal berani mengambil keputusan besar dan mengubah arah industri teknologi dunia. Kebiasaan itu sederhana, tetapi dampaknya luar biasa.

Setiap pagi, ia bertanya pada dirinya sendiri:

“Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, apakah saya akan melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?”

Pertanyaan ini ia jadikan alat evaluasi hidup. Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, melainkan untuk memastikan bahwa hidupnya tidak dihabiskan pada hal-hal yang ia sendiri tidak yakini. Ketika jawabannya terlalu sering “tidak”, ia tahu bahwa sudah saatnya mengubah arah — meskipun risikonya besar.

Kebiasaan inilah yang melatih keberanian:

  • berani mencoba hal baru,

  • berani meninggalkan zona nyaman,

  • dan berani mengambil keputusan yang tidak populer.

Kesadaran Kematian sebagai Sumber Kejernihan

Apa yang dilakukan Steve Jobs sejatinya adalah menghadirkan kematian dalam kesadaran harian. Dampaknya bukan pesimisme, melainkan kejernihan. Ketika seseorang menyadari bahwa waktu terbatas, ia berhenti membuang energi pada hal-hal remeh dan mulai fokus pada yang esensial.

Dalam Islam, prinsip ini telah lama ditekankan sebagai sarana membentuk kesungguhan hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).”

Para ulama menjelaskan bahwa mengingat kematian membuat seseorang:

  • lebih jujur pada dirinya sendiri,

  • tidak terjebak pada penilaian manusia,

  • dan lebih berani menata ulang prioritas hidup.

Efek ini terlihat jelas pada figur seperti Steve Jobs: kesadaran akan keterbatasan waktu membuat keputusan-keputusannya tegas dan terarah.

Tidak Menunda, Tidak Setengah Hati

Pertanyaan “jika hari ini adalah hari terakhir” secara praktis melahirkan sikap tidak menunda. Inilah sikap yang juga ditekankan dalam sabda Nabi ﷺ:

“Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi.”
(HR. Bukhari)

Pesan ini membentuk mentalitas:

  • bertindak sekarang,

  • memperbaiki hari ini,

  • dan tidak menunggu kondisi sempurna.

Steve Jobs dikenal sebagai pribadi yang tidak menunggu semuanya aman untuk melangkah. Ia bergerak ketika yakin arah yang ditempuh bermakna — sebuah sikap yang sejalan dengan ajaran untuk menghargai waktu dan kesempatan.

Mengingat Kematian Justru Melahirkan Produktivitas

Sering kali kematian dipersepsikan sebagai sesuatu yang melemahkan semangat hidup. Namun pengalaman menunjukkan sebaliknya. Kesadaran akan kematian justru:

  • meningkatkan fokus,

  • memperbaiki kualitas kerja,

  • dan menumbuhkan disiplin.

Islam menegaskan nilai waktu dengan sangat kuat:

“Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini adalah fondasi kesadaran bahwa waktu adalah modal utama kehidupan. Siapa yang menyadari keterbatasannya, ia akan lebih serius dalam berkarya — sebagaimana terlihat pada tokoh-tokoh yang menjadikan waktu sebagai aset paling berharga.

Hidup dengan Arah, Bukan Sekadar Sibuk

Menghadirkan kematian dalam kesadaran membuat seseorang tidak sekadar sibuk, tetapi hidup dengan arah. Dalam Islam, arah itu ditentukan oleh kesadaran bahwa setiap amal memiliki konsekuensi dan nilai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk apa yang datang setelah kematian.”

Dengan sudut pandang ini, seseorang akan bertanya bukan hanya:
“Apakah ini menghasilkan?”
tetapi juga:
“Apakah ini layak dijalani jika waktu saya terbatas?”

Pertanyaan inilah yang menjadikan hidup lebih berani, jujur, dan bermakna.

Penutup

Steve Jobs adalah contoh nyata bagaimana mengingat kematian dapat melahirkan keberanian dan kejernihan hidup. Apa yang ia praktikkan sebagai latihan mental, dalam Islam telah lama diajarkan sebagai prinsip spiritual dan praktis — untuk membebaskan manusia dari penundaan, ketakutan, dan hidup yang setengah hati.

Kesadaran akan kematian bukan untuk membuat hidup suram, tetapi untuk memastikan bahwa setiap hari dijalani dengan kesungguhan.

Karena pada akhirnya,
hidup yang disadari keterbatasannya adalah hidup yang paling bernilai.

More from this blog

P

Pola Pikir Juara

139 posts

Transformasi Diri Melalui Kekuatan Mindset dan Karakter.