Mengapa Ada Orang yang Membuat Kita Lebih Tenang, Sementara yang Lain Membuat Kita Lelah?

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Search for a command to run...

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
No comments yet. Be the first to comment.
Di dunia pendidikan, kita sering menggunakan kalimat seperti: "Materi ini sudah diajarkan." Kemudian kita menganggap bahwa karena materi sudah diajarkan, berarti siswa sudah mempelajarinya. Padahal

Mengajar sering kali dianggap sebagai aktivitas memindahkan pengetahuan dari kepala seorang guru ke kepala murid. Guru menjelaskan. Murid mendengarkan. Guru memberikan tugas. Murid mengerjakan. Kemudi

Ketika membahas sejarah keperawatan, banyak orang langsung mengingat nama Florence Nightingale. Namun, lebih dari 1.400 tahun sebelumnya, dunia Islam telah mengenal seorang perempuan luar biasa yang m

Mengapa developer dan creator lebih membutuhkan attention management dibanding time management. Ada sebuah paradoks menggelitik di dunia teknologi hari ini. Kita membangun AI untuk mempercepat workfl

Pernahkah Anda mengalami sesuatu yang sulit dijelaskan?
Anda sedang menghadapi masalah. Pikiran buntu. Rasanya tidak mampu menyelesaikannya. Bahkan pekerjaan sederhana terasa berat.
Lalu Anda bertemu seseorang.
Belum tentu orang itu memberikan solusi. Bahkan mungkin belum sempat berbicara banyak.
Namun entah mengapa, setelah bertemu dengannya, pikiran terasa lebih jernih. Masalah yang sebelumnya terlihat rumit tiba-tiba menjadi sederhana. Solusi yang tadi tidak terpikirkan muncul begitu saja.
Sebaliknya, ada juga orang yang setelah kita temui membuat tubuh dan pikiran terasa lelah. Padahal kita tidak melakukan pekerjaan fisik apa pun.
Apakah itu yang disebut aura?
Ataukah sebenarnya ada penjelasan lain yang lebih dalam?
Saya pernah memperhatikan pola yang menarik dalam diri sendiri.
Ketika sedang mengembangkan sebuah aplikasi, ada fitur yang terasa sangat sulit untuk dibuat. Saya memikirkannya berkali-kali, tetapi tidak menemukan jalan keluar.
Kemudian suatu ketika seorang ustadz mengatakan sesuatu yang sederhana:
"Bagus kalau aplikasi itu bisa menggunakan bahasa Inggris."
Sebelumnya, menambahkan bahasa Inggris terasa seperti pekerjaan besar.
Tetapi setelah mendengar kalimat tersebut, tiba-tiba cara berpikir berubah.
"Ah, sebenarnya tinggal menambahkan translation."
Lalu muncul ide tentang struktur data, locale, UI, dan cara implementasinya.
Yang sebelumnya terasa sulit ternyata dapat dikerjakan.
Apakah ustadz tersebut mentransfer energi kepada saya?
Belum tentu.
Sangat mungkin kemampuan teknisnya sebenarnya sudah ada. Hanya saja pikiran sedang berada dalam kondisi yang membuat kemampuan tersebut sulit diakses.
Pertemuan itu menjadi pemicu.
Dan mungkin, bagi seorang muslim, kita juga dapat memandang bahwa Allah menjadikan pertemuan tersebut sebagai sebab datangnya kemudahan.
Manusia bukan mesin yang memproses informasi secara netral.
Keadaan emosional sangat memengaruhi cara kita berpikir.
Ketika seseorang sedang cemas, takut gagal, atau merasa tidak mampu, masalah kecil dapat terlihat sangat besar.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa aman dan tenang, masalah yang sama dapat terlihat jauh lebih sederhana.
Karena itu, orang yang memberikan ketenangan sebenarnya dapat membantu kita menggunakan kemampuan yang sudah kita miliki.
Ia tidak harus memberikan "energi" secara harfiah.
Cukup dengan membuat kita merasa aman, didengar, dan tidak dihakimi.
Salah satu ciri orang yang matang secara ilmu adalah kemampuannya menyederhanakan masalah.
Orang yang belum memahami suatu masalah mungkin berkata:
"Ini rumit sekali."
Orang yang lebih berpengalaman mungkin berkata:
"Kita pecah menjadi tiga bagian."
Masalah yang tadinya terlihat sebagai satu gunung besar berubah menjadi beberapa langkah kecil.
Inilah salah satu alasan mengapa kita sering merasa "mendapat tenaga" setelah berbicara dengan orang berilmu.
Bukan karena orang tersebut memindahkan tenaga fisik kepada kita.
Ia membantu kita mengurangi beban kognitif.
Ia membuat sesuatu yang kusut menjadi terstruktur.
Dan ketika struktur itu terlihat, kita kembali mampu bergerak.
Fenomena sebaliknya juga sangat nyata.
Kita bertemu seseorang yang sepanjang percakapan:
mengeluh,
marah,
menyalahkan orang lain,
membicarakan masalah tanpa mencari solusi,
penuh prasangka,
atau terus membawa konflik.
Setelah percakapan selesai, kita merasa:
"Kok capek sekali?"
Padahal kita hanya duduk dan berbicara.
Salah satu penjelasannya adalah beban mental.
Otak kita harus terus memproses emosi, konflik, cerita, dan ketegangan dari lawan bicara.
Emosi juga dapat memengaruhi orang lain melalui proses yang dalam psikologi sering disebut emotional contagion, yaitu kecenderungan manusia menangkap atau ikut merasakan keadaan emosional orang di sekitarnya.
Karena itu, seseorang bisa saja "menguras tenaga" kita tanpa benar-benar mengambil energi dari tubuh kita.
Yang terkuras adalah perhatian, konsentrasi, dan kapasitas mental.
Bagi seorang muslim, manusia tidak hanya terdiri dari aspek fisik dan psikologis.
Ada hati.
Ada iman.
Ada akhlak.
Ada niat.
Karena itu, ketika kita bertemu orang yang memiliki ilmu, ketenangan, dan akhlak yang baik, pengaruh yang kita rasakan bisa jauh lebih dalam daripada sekadar percakapan.
Seseorang yang banyak ilmunya tetapi rendah hati dapat membuat kita ingin belajar.
Seseorang yang sabar dapat membuat kita malu untuk terburu-buru.
Seseorang yang dekat dengan Allah dapat mengingatkan kita kepada Allah tanpa banyak berbicara.
Dan seseorang yang memiliki akhlak buruk dapat membuat suasana menjadi berat meskipun secara intelektual ia sangat pintar.
Karena itu, kualitas seseorang bukan hanya tentang seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi juga tentang apa yang ilmu itu lakukan terhadap dirinya.
Ada orang yang pintar tetapi membuat orang lain merasa bodoh.
Ada pula orang yang pintar tetapi membuat orang lain merasa mampu.
Perbedaannya sering kali bukan pada jumlah ilmunya.
Melainkan pada bagaimana ilmu tersebut digunakan.
Orang berilmu yang baik tidak selalu menunjukkan bahwa dirinya tahu.
Ia justru membantu orang lain memahami.
Ia tidak membuat orang bergantung kepadanya.
Ia membuat orang lain mampu berdiri sendiri.
Mungkin inilah salah satu bentuk "memberikan tenaga" yang paling tinggi:
Bukan membuat orang membutuhkan kita, tetapi membuat orang menjadi lebih mampu.
Lalu pertanyaannya berubah.
Bukan lagi:
"Siapa orang yang bisa memberi saya energi?"
Tetapi:
"Apakah kehadiran saya membuat orang lain lebih kuat atau lebih lemah?"
Ini pertanyaan yang jauh lebih penting.
Ketika seseorang datang kepada kita dengan masalah, apakah setelah berbicara dengan kita ia merasa:
"Masalah saya bertambah."
atau:
"Saya sekarang tahu harus mulai dari mana."
Apakah anak-anak merasa takut ketika kita datang?
Atau mereka merasa aman untuk bertanya?
Apakah teman kita merasa harus berhati-hati setiap kali berbicara?
Atau mereka merasa bisa menjadi dirinya sendiri?
Apakah bawahan kita semakin takut mengambil keputusan?
Atau justru semakin percaya diri?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin lebih menggambarkan "aura" kita daripada istilah aura itu sendiri.
Jika istilah aura digunakan sebagai metafora untuk kesan, ketenangan, karakter, dan pengaruh seseorang, maka ada beberapa hal yang dapat dilatih.
Ilmu membuat kita tidak mudah panik.
Semakin kita memahami sesuatu, semakin mudah kita melihat struktur di balik masalah.
Orang yang memahami masalah biasanya tidak ikut memperbesar kepanikan.
Ia berkata:
"Mari kita lihat satu per satu."
Ketenangan yang kita berikan kepada orang lain sulit dipisahkan dari ketenangan yang ada dalam diri sendiri.
Al-Qur'an mengingatkan:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Ketenangan batin bukan berarti tidak mempunyai masalah.
Ketenangan berarti tidak selalu dikuasai oleh masalah.
Kadang orang tidak membutuhkan solusi.
Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Didengarkan dengan baik saja kadang sudah membuat seseorang mampu menemukan jawabannya sendiri.
Ketika orang lain panik, jangan ikut panik.
Jika dua orang panik bertemu, masalah menjadi lebih besar.
Tetapi jika satu orang tetap tenang, ketenangan itu dapat menjadi titik keseimbangan.
Bukan:
"Tenang, pasti gampang."
Tetapi:
"Memang sulit. Tapi kita bisa pecah menjadi beberapa langkah."
Kalimat kedua jauh lebih kuat karena tidak menyangkal kenyataan.
Tidak semua percakapan harus dimenangkan.
Tidak semua kesalahan harus dikoreksi.
Tidak semua masalah harus kita jawab.
Terkadang bentuk kedewasaan adalah mengatakan:
"Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama."
Justru kalimat seperti itu dapat membuat orang merasa aman.
Kita sering mengatakan:
"Orang ini energinya positif."
"Orang itu auranya berat."
Mungkin istilah tersebut adalah cara manusia menggambarkan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Ada ekspresi wajah.
Ada intonasi suara.
Ada bahasa tubuh.
Ada pengalaman masa lalu.
Ada rasa aman.
Ada tingkat ilmu.
Ada akhlak.
Ada keyakinan.
Ada kondisi emosional.
Ada cara seseorang memandang dunia.
Semua itu bertemu dalam satu sosok manusia.
Kemudian kita merasakannya sebagai:
"Saya nyaman berada di dekat orang ini."
atau:
"Saya cepat lelah kalau bersamanya."
Jadi mungkin bukan energi yang berpindah.
Mungkin kita sedang merespons keseluruhan kualitas manusia yang ada di hadapan kita.
Ada orang yang ketika pergi meninggalkan masalah.
Ada yang meninggalkan cerita.
Ada yang meninggalkan kesan.
Tetapi ada orang-orang tertentu yang setelah kita bertemu dengannya, kita menjadi sedikit lebih baik.
Lebih tenang.
Lebih berani.
Lebih optimis.
Lebih dekat kepada Allah.
Lebih mampu menyelesaikan masalah.
Menurut saya, inilah bentuk "energi" manusia yang paling indah untuk diwariskan.
Bukan energi mistis.
Bukan kemampuan membuat orang bergantung.
Tetapi ilmu yang mencerahkan, akhlak yang menenangkan, dan kehadiran yang membuat orang lain menemukan kembali kekuatannya sendiri.
Dan mungkin ukuran terbaiknya sederhana:
Ketika seseorang selesai berbicara dengan kita, apakah ia merasa lebih berat atau lebih ringan?
Jika semakin banyak orang merasa lebih ringan setelah bertemu kita, mungkin kita sedang berada di jalan untuk menjadi manusia yang benar-benar memberi manfaat.