Kognitif untuk Seorang Pengajar: Memahami Cara Murid Berpikir, Bukan Sekadar Apa yang Mereka Ketahui

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Search for a command to run...

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
No comments yet. Be the first to comment.
Di dunia pendidikan, kita sering menggunakan kalimat seperti: "Materi ini sudah diajarkan." Kemudian kita menganggap bahwa karena materi sudah diajarkan, berarti siswa sudah mempelajarinya. Padahal

Pernahkah Anda mengalami sesuatu yang sulit dijelaskan? Anda sedang menghadapi masalah. Pikiran buntu. Rasanya tidak mampu menyelesaikannya. Bahkan pekerjaan sederhana terasa berat. Lalu Anda bertemu

Ketika membahas sejarah keperawatan, banyak orang langsung mengingat nama Florence Nightingale. Namun, lebih dari 1.400 tahun sebelumnya, dunia Islam telah mengenal seorang perempuan luar biasa yang m

Mengapa developer dan creator lebih membutuhkan attention management dibanding time management. Ada sebuah paradoks menggelitik di dunia teknologi hari ini. Kita membangun AI untuk mempercepat workfl

Mengajar sering kali dianggap sebagai aktivitas memindahkan pengetahuan dari kepala seorang guru ke kepala murid.
Guru menjelaskan. Murid mendengarkan. Guru memberikan tugas. Murid mengerjakan. Kemudian hasilnya dinilai.
Namun, proses belajar manusia tidak sesederhana itu.
Dua murid dapat duduk di kelas yang sama, mendengarkan penjelasan yang sama, mendapatkan tugas yang sama, dan memiliki waktu belajar yang sama—tetapi menghasilkan pemahaman yang sangat berbeda.
Mengapa?
Karena yang berbeda bukan hanya kemampuan mereka.
Cara otak mereka menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi juga berbeda.
Di sinilah pemahaman tentang kognitif menjadi penting bagi seorang pengajar.
Kognitif berkaitan dengan berbagai proses mental yang digunakan manusia untuk belajar dan menyelesaikan masalah.
Di dalamnya terdapat:
perhatian,
persepsi,
memori,
pemahaman,
penalaran,
pemecahan masalah,
pengambilan keputusan,
dan metakognisi.
Karena itu, ketika seorang murid tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan, pengajar sebaiknya tidak langsung menyimpulkan:
"Murid ini tidak pintar."
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Pada bagian mana proses berpikirnya mengalami hambatan?"
Apakah ia tidak memahami pertanyaannya?
Apakah informasi terlalu banyak?
Apakah pengetahuan dasarnya belum cukup?
Apakah ia sebenarnya memahami konsep tetapi tidak percaya diri?
Atau ia tidak memiliki motivasi untuk mengerjakannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghasilkan intervensi yang berbeda.
Salah satu kesalahan dalam pembelajaran adalah menganggap semua murid memulai dari garis yang sama.
Padahal setiap murid membawa:
pengalaman,
pengetahuan awal,
kosakata,
kebiasaan belajar,
kemampuan memori,
kecepatan memahami,
kepercayaan diri,
dan motivasi yang berbeda.
Misalnya seorang guru mengajarkan konsep baru.
Bagi murid pertama, konsep tersebut hanya membutuhkan satu langkah berpikir karena ia sudah memiliki pengetahuan dasar yang cukup.
Bagi murid kedua, konsep yang sama mungkin membutuhkan lima langkah karena beberapa fondasinya belum terbentuk.
Materinya sama.
Tetapi beban kognitifnya berbeda.
Karena itu, keadilan dalam pendidikan tidak selalu berarti memberikan sesuatu yang persis sama kepada semua murid.
Kadang-kadang keadilan berarti memberikan dukungan yang berbeda agar setiap murid memiliki kesempatan untuk berkembang.
Sebelum informasi dipahami, informasi harus mendapatkan perhatian.
Seorang murid mungkin secara fisik berada di dalam kelas, tetapi pikirannya berada di tempat lain.
Ia melihat guru.
Ia mendengar suara guru.
Tetapi belum tentu otaknya benar-benar memproses informasi tersebut.
Karena itu, pengajar perlu membangun perhatian.
Caranya tidak selalu harus dengan hiburan.
Pertanyaan sederhana, permasalahan nyata, demonstrasi, cerita, atau sesuatu yang membuat murid penasaran dapat menjadi pintu masuk pembelajaran.
Daripada memulai dengan:
"Hari ini kita akan mempelajari teori X."
pengajar dapat memulai dengan:
"Menurut kalian, mengapa hal ini bisa terjadi?"
Pertanyaan membuat otak mencari jawaban.
Dan ketika seseorang mencari jawaban, perhatian mulai bekerja.
Salah satu konsep penting dalam pembelajaran adalah working memory.
Working memory dapat dipahami sebagai ruang mental yang digunakan untuk menahan dan memproses informasi yang sedang digunakan.
Masalahnya, ruang ini terbatas.
Karena itu, penjelasan yang terlalu panjang dan kompleks dapat membuat murid kehilangan informasi sebelum mereka sempat memahami keseluruhan konsep.
Bayangkan seorang pengajar memberikan sepuluh instruksi sekaligus.
Murid mungkin hanya mengingat tiga atau empat instruksi pertama.
Bukan karena ia malas.
Bisa jadi kapasitas pemrosesan pada saat itu sudah penuh.
Maka salah satu keterampilan pengajar adalah:
memecah informasi kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih mudah diproses.
Bukan mengurangi kualitas materi, tetapi mengurangi beban yang tidak diperlukan.
Dalam teori Cognitive Load, beban kognitif secara umum dapat dipahami melalui tiga komponen.
Kesulitan yang memang melekat pada materi.
Belajar matematika tingkat lanjut tentu memiliki kompleksitas yang lebih tinggi daripada belajar operasi hitung dasar.
Pengajar tidak selalu dapat menghilangkan kesulitan ini.
Beban tambahan yang muncul karena cara pembelajaran dirancang.
Misalnya:
instruksi membingungkan,
slide terlalu penuh,
contoh terlalu kompleks,
istilah terlalu banyak,
atau materi disampaikan tanpa struktur.
Beban seperti ini sebaiknya dikurangi.
Usaha mental yang digunakan untuk membangun pemahaman dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Inilah aktivitas kognitif yang ingin didorong.
Tujuan pengajar bukan membuat semua materi menjadi mudah.
Tujuannya adalah memastikan energi mental murid digunakan untuk hal yang benar.
Murid tidak hanya membutuhkan informasi.
Mereka membutuhkan hubungan antara informasi.
Misalnya seseorang belajar:
"Object."
Menghafal definisi mungkin tidak cukup.
Ia perlu memahami hubungan:
Object
↓
Property
↓
Value
↓
Cara mengambil data
↓
Cara mengubah data
↓
Penggunaan dalam masalah nyata
Ketika konsep saling terhubung, pengetahuan menjadi lebih mudah digunakan kembali.
Inilah alasan mengapa pengajar perlu memperhatikan prior knowledge.
Sebelum mengajarkan sesuatu yang baru, tanyakan:
"Apa yang sudah mereka ketahui?"
Karena pengetahuan baru tidak berdiri sendiri.
Ia dibangun di atas pengetahuan sebelumnya.
Ada murid yang cepat memahami penjelasan.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Namun cepat bukan selalu berarti lebih pintar, dan lambat bukan selalu berarti tidak mampu.
Kecepatan dapat dipengaruhi oleh:
pengalaman,
pengetahuan awal,
rasa percaya diri,
kondisi fisik,
perhatian,
dan banyak faktor lainnya.
Karena itu, pengajar sebaiknya tidak menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran kemampuan.
Yang lebih penting adalah:
Apakah murid mengalami perkembangan?
Bayangkan dua murid.
Murid pertama mendapatkan nilai 90 dan tetap mendapatkan nilai 90.
Murid kedua awalnya mendapatkan nilai 30, kemudian meningkat menjadi 60.
Secara angka, murid pertama masih lebih tinggi.
Namun dari sisi perkembangan, murid kedua mengalami lompatan yang besar.
Karena itu pengajar sebaiknya melihat dua hal:
Position: Di mana kemampuan murid sekarang?
Progress: Seberapa jauh murid berkembang dari titik awalnya?
Keduanya penting.
Nilai membantu mengetahui posisi.
Progress membantu mengetahui perkembangan.
Penilaian sering dipahami sebagai aktivitas yang dilakukan di akhir pembelajaran.
Padahal assessment juga dapat digunakan untuk mendiagnosis proses belajar saat pembelajaran sedang berlangsung.
Inilah yang disebut formative assessment.
Misalnya setelah menjelaskan sebuah konsep, pengajar tidak langsung melanjutkan materi.
Berikan satu pertanyaan sederhana:
"Coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri."
Atau:
"Coba kerjakan tanpa melihat contoh."
Dari jawaban tersebut, pengajar dapat mengetahui apakah konsep benar-benar telah dipahami.
Jika belum, guru dapat memperbaiki pembelajaran sebelum melanjutkan.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya pernah melihat materi ini."
dan:
"Saya mampu mengingat dan menggunakannya."
Karena itu, pembelajaran sebaiknya memberikan kesempatan kepada murid untuk mengambil kembali informasi dari memori.
Misalnya:
kuis singkat,
pertanyaan spontan,
menjelaskan kembali,
latihan tanpa melihat catatan,
atau mencoba menyelesaikan masalah.
Murid mungkin salah.
Dan itu tidak selalu buruk.
Kesalahan dapat menjadi informasi bagi pengajar maupun murid tentang bagian mana yang belum dikuasai.
Murid yang belum mampu menyelesaikan suatu tugas tidak selalu membutuhkan jawaban.
Kadang ia hanya membutuhkan scaffolding.
Misalnya:
Tahap pertama:
Guru memberikan contoh lengkap.
Tahap kedua:
Guru memberikan contoh sebagian.
Tahap ketiga:
Murid menyelesaikan dengan sedikit petunjuk.
Tahap keempat:
Murid menyelesaikan secara mandiri.
Bantuan kemudian dikurangi secara bertahap.
Tujuannya bukan membuat murid selalu bergantung kepada guru.
Sebaliknya:
guru membantu murid sampai murid tidak lagi membutuhkan bantuan tersebut.
Pembelajaran yang baik tidak hanya memperhatikan murid yang tertinggal.
Murid yang sudah memahami materi juga membutuhkan tantangan.
Jika tidak, mereka dapat:
bosan,
kehilangan perhatian,
atau berhenti berkembang.
Ketika seorang murid telah menguasai konsep dasar, berikan tantangan berikutnya:
gunakan konsep tersebut pada masalah baru.
Kemudian:
buat solusi sendiri.
Kemudian:
jelaskan alasan di balik solusi tersebut.
Dengan demikian pembelajaran dapat bergerak dari:
mengetahui → memahami → menggunakan → menganalisis → menciptakan.
Meminta murid yang sudah menguasai materi untuk membantu temannya dapat menjadi strategi yang baik.
Namun jangan menjadikannya solusi utama.
Murid yang cepat belajar juga perlu mendapatkan tantangan untuk dirinya sendiri.
Ia bukan sekadar "alat bantu" untuk murid lain.
Jika ingin menggunakan peer learning, pastikan kedua pihak mendapatkan manfaat:
murid yang dibantu mendapatkan scaffolding,
murid yang membantu mendapatkan kesempatan memperdalam pemahaman melalui penjelasan.
Tetapi setelah itu, murid yang sudah mampu tetap perlu mendapatkan extension challenge.
Salah satu tujuan pendidikan yang lebih tinggi adalah membuat murid mampu belajar tanpa selalu bergantung kepada guru.
Untuk itu, murid perlu mengenal proses berpikirnya sendiri.
Inilah yang disebut metakognisi.
Pengajar dapat bertanya:
"Bagian mana yang paling sulit?"
"Mengapa kamu mengalami kesulitan?"
"Apa yang kamu lakukan ketika tidak tahu jawabannya?"
"Strategi apa yang berhasil?"
"Jika menghadapi masalah yang sama besok, apa yang akan kamu lakukan?"
Pertanyaan seperti ini membuat murid tidak hanya belajar materi.
Mereka juga belajar:
bagaimana cara belajar.
Dari seluruh pembahasan ini, peran pengajar sebenarnya menjadi lebih luas.
Pengajar bukan hanya:
menyampaikan materi.
Tetapi juga:
mengamati → mendiagnosis → memberikan intervensi → mengukur → menyesuaikan.
Siklusnya dapat digambarkan:
OBSERVASI
↓
DIAGNOSIS
↓
INTERVENSI
↓
ASSESSMENT
↓
REFLEKSI
↓
PENYESUAIAN TARGET
↓
OBSERVASI
Dengan siklus tersebut, pembelajaran menjadi adaptif.
Guru tidak sekadar mengikuti silabus.
Guru mengikuti perkembangan manusia yang sedang belajar.
Ini mungkin salah satu kesimpulan terpenting dalam pembelajaran.
Kelas yang baik bukan kelas yang semua murid:
memiliki kemampuan sama,
menyelesaikan soal dalam waktu sama,
mendapatkan nilai sama,
atau mencapai materi pada kecepatan sama.
Kelas yang baik adalah kelas yang:
setiap murid mendapatkan tantangan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Ada yang membutuhkan fondasi.
Ada yang membutuhkan pengulangan.
Ada yang membutuhkan kepercayaan diri.
Ada yang membutuhkan tantangan.
Ada yang membutuhkan motivasi.
Ada yang membutuhkan kemandirian.
Dan pengajar perlu mampu membedakannya.
Pada akhirnya, ilmu kognitif mengajarkan sebuah perspektif sederhana:
Murid bukan wadah yang harus diisi dengan pengetahuan. Murid adalah manusia yang harus dibantu membangun pengetahuan.
Karena itu, pengajar perlu berhenti hanya bertanya:
"Materi apa yang sudah saya sampaikan?"
dan mulai bertanya:
"Apa yang sekarang mampu dipikirkan, dipahami, dan dilakukan oleh murid?"
Perubahan pertanyaan tersebut mengubah cara kita mengajar.
Kita mulai memperhatikan perhatian.
Kita memperhatikan working memory.
Kita mengelola cognitive load.
Kita memperhatikan pengetahuan awal.
Kita menggunakan assessment untuk diagnosis.
Kita memberikan scaffolding.
Kita mendorong retrieval practice.
Kita mengembangkan metakognisi.
Dan yang paling penting, kita mulai melihat setiap murid sebagai individu yang sedang berada pada titik perkembangan yang berbeda.
Seorang pengajar yang memahami kognitif akhirnya tidak hanya bertugas membuat murid tahu lebih banyak.
Ia membantu murid berpikir lebih baik, belajar lebih mandiri, dan perlahan mampu berdiri tanpa bantuan gurunya.