Skip to main content

Mengapa Kita Terus Mengulangi Kesalahan yang Sama?

Updated 2 min readMarkdown
Mengapa Kita Terus Mengulangi Kesalahan yang Sama?

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita terus mengulangi kesalahan yang sama, padahal kita tahu akibatnya?

Ketika menghadapi masalah, kita merasa gelisah, cemas, dan khawatir. Pikiran menjadi penuh, pekerjaan terbengkalai, dan hidup terasa semakin berat.

Lalu, kita mencari ketenangan.

Ada yang terus bermain HP agar lupa dengan masalahnya. Ada yang merokok, mengeluh, menyalahkan orang lain, atau mencari kesenangan bersama teman. Ada pula yang bergantung secara berlebihan kepada sosok tertentu karena berharap mendapatkan ketenangan dan rasa aman.

Cara kita berbeda-beda, tetapi terkadang kita melakukan hal yang sama: mencari kelegaan sesaat tanpa menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Akibatnya, masalah tetap ada. Bahkan, bisa bertambah. Ketika kegelisahan datang kembali, kita mengulangi kebiasaan yang sama. Begitu seterusnya.

Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran ini?

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini mengingatkan kita untuk kembali kepada Allah dalam mencari ketenangan. Namun, mengingat Allah bukan berarti mengabaikan masalah. Kita tetap perlu berusaha menghadapi dan menyelesaikannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”

(HR. Muslim no. 2664)

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, kenali apa yang sebenarnya membuat kita gelisah. Apakah ada masalah yang belum diselesaikan, ketakutan terhadap masa depan, atau keinginan yang sulit dikendalikan?

Kedua, jangan hanya mencari pelarian. Jika memang lelah, beristirahatlah. Jika ada masalah, pikirkan langkah penyelesaiannya. Jika tidak mampu menghadapinya sendiri, mintalah bantuan kepada orang yang tepat.

Ketiga, belajar mengendalikan diri. Tidak semua keinginan harus dituruti. Tidak semua pikiran harus diikuti. Kita perlu belajar memilih tindakan yang bermanfaat, meskipun tidak selalu terasa nyaman pada awalnya.

Keempat, terima kenyataan, syukuri nikmat yang ada, dan tetap berusaha memperbaiki diri. Jangan menghabiskan hidup dengan membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujian dan perjalanan yang berbeda.

Kita tidak akan pernah kehabisan hal untuk dipelajari. Seiring bertambahnya usia, akan datang masalah dan ujian baru.

Karena itu, keberhasilan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan terus belajar menghadapinya dengan cara yang benar.

Jangan hanya sibuk mencari cara agar kegelisahan menghilang. Belajarlah memahami apa yang menyebabkannya, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menghadapi apa yang berada di luar kemampuan kita.

Sebab, tujuan kita bukan sekadar merasa tenang, tetapi menjalani kehidupan dengan cara yang diridai Allah.

Wallahu a'lam.

About the author

  • I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

No comments yet. Be the first to comment.